27 January 2012

Ekplorasi Mengutamakan Pengalaman Belajar


siswa SD
Dalam pembelajaran di kelas saat ini secara empiris telah menghasilkan suatu disiplin ilmu dalam proses pembelajaran.  Berbagai pemikiran baru dari berbagai penjuru dunia berlomba mengembangkan ilmu pendidikan dan cara agar peserta didik dapat dengan mudah menyerap informasi dalam belajar sehingga terjadi perubahan tingkah laku.
Pembelajaran saat ini tidak hanya berfokos pada skenario pembelajaran seperti yang sudah dibahas pada posting elaborasi paradigma baru dalam belajar

Apa yang harus dilakukan siswa seperti yang tertulis dalam RPP?Atau apa yang dapat siswa temukan serta kuasai ? Namun harus sampai pula kepada bagaimana cara siswa mengekporasi ilmu pengetahuan. Istilah populernya adalah “explorative learning”. Jadi bisa dikatakan bahwa pembelajaran ekplorasi lebih mengutamakan pengalaman belajar dari pada materi pelajaran.

Definisi Ekplorasi

Menurut kamus wikipedia bahwa eksplorasi dalam konteks ilmu pengetahuan adalah salah satu bentuk dari tiga tujuan riset selain deskripsi (penggambaran) dan ekplanasi (penjelasan) Ekplorasi adalah suatu usaha untuk membentuk pengertian umum dan awal terhadap suatu fenomena. Sedangkan menurut American Dictionary: Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena. Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.

Pembelajaran ekplorasi lebih mengutamakan pengalaman belajar dari pada materi pelajaran. Mengapa demikian? Karena menurut seorang filosof china Lao Tsu: “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand”.(Saya mendengar dan saya lupa. Saya melihat dan saya ingat. Saya lakukan dan saya mengerti) Dengan pembelajaran eklporatif ini siswa memiliki pengalaman sendiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan diharapkan pengetahuan yang sudah ada tidak akan cepat lupa serta tertanam terus sebagai dasar untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Itulah salah satu keunggulan dari ekplorasi yang merupakan kelanjutan dari elaborasi.

Pembelajaran ekplorasi lebih mengutamakan pengalaman belajar dari pada materi pelajaran juga relevan dengan pendidikan karakter yang tidak mengutamakan peserta didik menguasai ilmu pengetahuan saja atau cerdas secara intelektual saja tapi juga memiliki karakter bangsa yang diharapkan. Dalam pembelajaran ekploratif di mana siswa memiliki pengalaman langsung untuk dapat menyerap informasi baik dari guru serta dari lingkungan diharkan juga siswa punya karakter rasa ingin tahu serta kemandirian yang tinggi.
 
Pembelajaran ekplorasi lebih mengutamakan pengalaman belajar karena dalam pendekatan pembelajar ekploratif tidak hanya terfokus pada transfer ilmu pada peserta didik tapi harus dibarengi pula dengan peningkatan kualitas ilmu atau informasi yang diserap. Informasi ini tidak hanya disusun oleh guru yang secara otentik di tuangkan dalam administrasi guru tapi melibatkan pula peserta didik. 

Jenis keterlibatan siswa dalam ekploitasi misalnya:
  • siswa dapat diberi tugas serta pengarahan untuk membuat peta konsep. Dengan membuat peta konsep maka siswa terlibat dalam ekloitasi informasi serta ilmu pengetahuan
  • siswa di kelompokan dibuat kelompok-kelompok kecil dengan tingkat pemahaman atau inteligensi serta penguasaan konsep heterogen dengan tujuan adanya kerja kelompok serta sifat kerja sama di antara teman terjalin dengan pembiasaan diri sejak dini
  • tutor sebaya, lebih jauh dari pengelompokan dalam kelompok kecil supaya terjadi interaksi tanya jawab bukan hanya transfer ilmu dari guru ke murid tapi dari siswa ke siswa.
  • Diskusi kelompok, diharapkan ditanamkan untuk menambah kepercayaan diri dalam mengungkapkan sebuah pendapat serta saling menghargai pendapat sesama
Dalam konteks lain misalnya ahli pendidikan Islam Imam Al-ghazali mengatakan dalam konsep pendidikannya bahwa dalam pendidikan lebih mengutamakan akhlak dari pada ilmu pengetahuan hal ini pula dengan Pembelajaran ekplorasi lebih mengutamakan pengalaman belajar. Sangat utama bahwa kecerdasan yang diperlukan bukan hanya kecerdasan kognitif saja seperti yang diungkapkan dalam taksonomi bloom tapi termasuk kecerdasan afektif serta psikomotor. Dengan sikap yang baik tertanam pada diri anak berdasarkan contoh nyata baik dari orang tua atau guru maka pengetahuan bisa didapat di mana pun termasuk belajar secara mandiri 

Demikian posting kali ini, mohon maaf atas  kurang lebihnya silakan tulis di kolom komentar!
Referensi:
  • U.S.Winataputra Prof. Dr. Teori Belajar dan Pembelajaran, Penerbit UT Jakarta
  • Modul IHT SMKN4 Garut 2011/2012
  • http://www.Gurupembaharu.com/

10 comments:

  1. artikel yang luar biasa pak..
    semoga bisa bermanfaat untuk yang sedang mencari artikel ini..
    salam kenal dari saya pak :) :)

    ReplyDelete
  2. @yoeda.com, terima kasih salam kenal kembali

    ReplyDelete
  3. buat para pengajar WAJIB baca ini !!! :-)

    ReplyDelete
  4. @rendy pratama. terima kasih

    ReplyDelete
  5. terima kasih ya artikelnya sangat membantu :)

    ReplyDelete
  6. @Honeylizious Rohani Syawaliah, ok :)

    ReplyDelete
  7. wah artikel ini bisa jadi bahan refrensi..
    XD

    ReplyDelete
  8. @Mahfud terima kasih sudah berkunjung dan memberikan komentar

    ReplyDelete

Thank you for visiting my blog, please write your comment here! I am pleased to be back to visit your blog.
Maaf bila ada kalimat yang mengandung link akan secara otomatis masuk kotak spam oleh sistem blogspot.

DMCA.com